Teknologi PEGAR untuk mengatasi Abrasi Air Laut

Abrasi air laut sangat merugikan penduduk yang berada di pesisir pantai, terutama kawasan wisata pantai, contoh nya seperti yang terjadi di pantai Sedang sikucing di Kecamatan Rowosari, abrasi menjadi ancaman obyek wisata Pantai Ngebum Mororejo Kaliwungu Kendal. Karena Dalam kurun waktu dua tahun terakhir saja 10 meter bibir pantai telah hilang akibat diterjang ombak. Abrasi yang terjadi telah merusak sebagian warung dan rumah yang ada di pinggir pantai tersebut. terhitung sudah empat warung yang roboh akibat hilangnya bibir pantai tersebut dalam dua tahun terakhir.

Abrasi sendiri merupakan fenomena alam yang pasti terjadi di pesisir pantai, namun dapat kita minimalisir dengan menggunakan metode pemecah gelombang, baik yang tradisional maupun yang menggunakan teknologi. Penanganan abrasi pantai telah banyak dilakukan dengan menggunakan struktur keras (hard structure), seperti: revetment, tembok laut,pemecah gelombang, groin atau kombinasi dari jenis pelindung pantai tersebut. Namun setiap metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing Penerapan struktur keras terkadang hanya mengamankan satu ruas pantai saja, hal ini berdampak pada timbulnya erosi di ruas pantai lainnya. meskipun struktur keras berhasil mengatasi erosi pantai berpasir atau berkarang, sayangnya kurang efektif dalam mengatasi erosi khususnya pada pantai berlumpur.

Solusi saat ini yang dinilai paling efektif dan efisien dalam mengatasi permasalahan erosi dan abrasi pantai yang disebabkan oleh adanya pasang surut dan gelombang laut, adalah penggunaan Teknologi Pemecah Gelombang Ambang Rendah (PEGAR). teknologi ini telah terbukti dapat menyelamatkan ruas pantai dari terjadinya erosi dan abrasi.

Untuk mencegah tergerusnya garis pantai akibat abrasi Kepala Pusdiklat Sumber Daya Air dan Konstruksi, Yudha Mediawan, menambahkan,”PEGAR merupakan salah satu solusi terbaik dari sisi life cycle cost. tetapi ini juga perlu pemberdayaan masyarakat, misalnya mereka membentuk kelompok masyarakat untuk membantu pemerintah dalam sosialisasi ke penduduk setempat hal tersebut diperlukan untuk menghindari adanya aksi vandalism dari yang kontra akan teknik ini.

Oleh karena itu Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian PUPR melalui Balai Uji Coba Sistem Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi mengadakan pelatihan pengembangan Teknologi Pemecah Gelombang Ambang Rendah (PEGAR) yang menggunakan bahan Geotekstil woven yang bertujuan untuk menahan abrasi air laut dan membentuk pantai secara alami sehingga lebih ramah lingkungan.

Dede M. Sulaiman selaku peneliti utama dalam Teknologi Geotube berbahan tekstil PEGAR menyampaikan bahwa setelah melalui pengujian di Bali tepatnya di Pantai Pebuahan, Jembrana. Teknik PEGAR berhasil melunakkan arus gelombang pantai. Teknik PEGAR ini bertujuan sebagai pemecah gelombang pantai, dengan cara menyeimbangkan gelombang arusnya dan menjaga sedimentasi pantai.


Leave a Reply