Berbisnis Kopi

Gambar terkait

Roadshow KOPI yang dilaksanakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terhadap tanggal 14-24 April 2018 di sejumlah daerah di Amerika dan Kanada berbuah manis. Selama 11 hari datang di beraneka lokasi seperti Los Angeles, San Francisco, Portland, Seattle, dan Vancouver, delegasi Indonesia sukses menorehkan prestasi. CEO Kopi Spectrum (Indonesia) Tresna Yaniza Putra sudah di tandatangani kesepakatan bisnis pembukaan kedai kopi Indonesia di Portland bersama CEO Kopi Coffee House (Amerika) Joshua Lee. Selain itu termasuk sudah dilaksanakan penandatanganan kesepakatan co­-branding KOPI antara Perwakilan CEO Kopiku Michael Utama (Indonesia) bersama CEO Mr. Green Beans Trevin Miller (Amerika). Kedua penandatangan kesepakatan bisnis ini dilaksanakan di Paviliun Indonesia yang datang di dalam event Specialty Coffee Expo 2018 dan disaksikan oleh Deputi Pemasaran Bekraf, Joshua Puji Mulia Simandjuntak di Washington State Convention Center, Seattle.

Dua hari berselang, di Vancouver – Kanada termasuk dilaksanakan penandatanganan kesepakatan bisnis antara CEO Kopiku Michael Utama (Indonesia) bersama CEO Nusa Coffee Liza Wajong (Kanada) untuk pembukaan kedai kopi Indonesia dan co-branding KOPI di Toronto.

Tidak cuma jalankan penandatangan kesepakatan bisnis, roadshow ini termasuk diisi bersama persaingan icip kopi yang diikuti oleh 123 orang penikmat kopi. Kompetisi icip kopi ini terjadi terhadap tanggal 20-21 April 2018 di Paviliun Indonesia dan menyajikan biji kopi yang serupa tapi sudah diroasting oleh 3 orang roaster yang berlainan dari Amerika. Para penikmat kopi diminta untuk menentukan rasa kopi terfavorit dan dilaksanakan undian bagi peserta persaingan untuk meraih perjalanan gratis lihat kebun kopi di Indonesia bersama bersama roaster terfavorit.

Tentang KOPI dan Ragam Rasa

Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak termasuk jadi narasumber di dalam coffee talk yang membicarakan perihal branding nama dan logo KOPI dari Indonesia. “Bekraf bersama stakeholders mulai menginisiasi penggunaan nama dan logo KOPI untuk menyebut nama kopi dari Indonesia,” ujar Joshua. Hal ini untuk jadi pembeda bersama hanya kata “coffee”. Kata KOPI tidak menghalau identitas daerah penghasil, jadi tingkatkan kredibilitas bahwa product selanjutnya berasal dari Indonesia dan sudah lewat sistem pengolahan terbaik. Misalnya kata Kopi Gayo, Kopi java Preanger, Kopi Ijen, Kopi Blawan, Kopi Flores, Kopi Kintamani, Kopi Toraja. Tanpa wajib penjelasan, kata KOPI tadi sudah merujuk terhadap Indonesia. “KOPI adalah satu kata yang enteng diingat tapi mampu jadi simbol dari kekayaan rasa, ketinggian mutu dan keunikan kopi Indonesia,” mengerti Joshua.

Di beraneka lokasi yang dikunjungi para delegasi termasuk menyajikan beraneka model kopi untuk dicicipi oleh para potential partner yang ditemui. Salah satunya adalah Roberto, Division Head of Roastery dari Cumaica Cafe di San Francisco. Ia mengomentari bahwa di dalam persepsinya kopi Indonesia condong “membosankan” dikarenakan kekhasan rasanya tidak berubah sejak dulu, “ini adalah suatu rasa yang baru dan tidak terduga,” ucapnya pas diperkenalkan bersama rasa kopi Papua Monemani yang menurutnya punyai rasa yang berlainan dan unik.

Sementara itu di lokasi acara Specialty Coffee Expo, Nick seorang trainer dari Specialty Coffee Association (SCA) yang berbasis di Seattle, mengutarakan bahwa kopi Sumatera sudah lama dikenal di Amerika Serikat, “bahkan gerai Starbucks yang pertama kali membuka di Seattle sudah menjual kopi Sumatera,” imbuhnya. Nick mengimbuhkan bahwa salah satu keunggulan kopi Sumatera terletak terhadap rasanya (flavour). “Orang-orang mampu menemukan rasa coklat dibalik rasa kopi yang mereka teguk,” katanya.

Di hall terpisah, Chris salah seorang mentor dari lembaga pendidikan di bidang kopi, Royal Crown, mengemukakan bahwa kopi Sumatera punyai keunikan di dalam hal rasa. “Saya tidak mampu membedakan rasa antara kopi Brazil bersama beberapa kopi dari negara lain. Tapi saya mampu membedakan mana kopi Sumatera jikalau disandingkan bersama kopi Brazil maupun kopi dari negara lain”, tuturnya.

Daroe Handojo selaku perwakilan AKSI yang turut jadi anggota dari delegasi, mengutarakan bahwa terkandung beberapa kesempatan kesepakatan tambahan yang berpotensi deal dan hal ini mampu dijajaki dari Jakarta berbarengan bersama Bekraf. (Kris/AKD)

Tentang Bekraf

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang bertanggung jawab di bidang ekonomi kreatif. Saat ini, Kepala Bekraf dijabat oleh Triawan Munaf.

Bekraf mempunyai tugas menopang Presiden RI di dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio.

Rekomendasi: Mesin Roaster Kopi


Leave a Reply